Jumat, 12 April 2013

analisis gaya bahasa dalam puisi tembang alam



kami bukan perampok

Pengertian gaya

Secara umum, gaya adalah cara mengungkapkan diri sendiri, entah melalui bahasa, tingkah laku, dan sebagainya (Keraf, 2002 : 113). Dengan demikian, segala perbuatan manusia dapat dipergunakan untuk mengetahui siapakah dia sebenarnaya atau segala perbuatan dapat memberikan gambaran sendiri. Dalam hubungan dengan karya sastra, terdapat berbagai pengertian atau pendapat tentang gaya yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pengertian tersebut. Istilah gaya berpadanan dengan istilah stylos (Aminuddin 1995 : 1). Secara umum makna stylus adalah bentuk arsitektur,  yang memiliki ciri sesuai dengan karaktristik ruang dan waktu. Semantara itu kata stylus bermakna alat untuk menulis sesuai dengan cara yang digunakan oleh penulisnya. Terdapat dimensi bentuk dan cara tersebut menyebabkan istilah style selain dikatagorikan sebagai nomina juga dikatagorikan sebagai verba. Secara etimologis stylistis berhubungan dengan kata style, artinya gaya, sedangkan stylistics dapat diterjemahkan ilmu tentang gaya. Gaya ialah cara pengungkapan dalam tulisan atau ujaran; penyeleksian ungkapan yang khas, cara yang khas dalam mengungkapkan pikiran melalui kata-kata yang runtut atau kiasan yang berbeda kesannya bila diungkapkan dengan cara yang lain  dan juga lebih menekankan pada pengolahan bahasa sebagai media yang akan  berubah menjadi karya sastra.

Majas
Majas atau gaya bahasa dalam karya sastra banyak kita temukan. Tanpa  keindahan bahasa karya sastra akan menjadi hambar. Dibawah ini akan dijelaskan tentang majas dan fungsi majas serta macamnya.

 Pengertian dan Fungsi Majas
Majas adalah bahasa kiasan yang dapat menghidupkan atau meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu. Majas dapat dimanfaatkan oleh para pembaca atau penulis untuk menjelaskan gagasan mereka (Tarigan 1985 : 179). Nurgiyantoro (1998 : 297) menyatakan bahwa permajasan adalah (figure of thought) merupakan teknik pengungkapan bahasa, penggaya bahasan yang maknanya tidak menujuk pada makna harfiah kata-kata yang mendukung, melainkan pada makna yang ditambah, makna yang tersirat. Jadi permajasan adalah gaya yang sengaja mendayagunakan penuturan dengan memanfaatkan bahasa kias. Sedangkan Waluyo (1995 : 83) majas dengan figuran bahasa yaitu penyusunan bahasa yang bertingkat-tingkat atau berfiguran sehingga memperoleh makna yang kaya. Dengan demikian fungsi majas untuk menciptakan efek yang lebih kaya, lebih efektif, dan lebih sugestif dalam karya sastra. Pradopo (2002 : 62) menjelaskan bahwa majas meyebabkan karya sastra menjadi menarik perhatian, menimbulkan kesegaran, lebih hidup, dan menimbulkan kejelasan gambaran angan. Perrine (dalam Waluyo, 1995 : 83) menyebutkan bahwa majas digunakan untuk (1) menghasilkan kesenangan imajinatif, (2) menghasilkan imaji tambahan sehingga hal-hal yang abstrak menjadi kongrit dan menjadi dapat dinikmat pembaca, (3) menambah intensitas perasaan pengarang dalam menyampaiakan makna dan sikapnya, (4) mengkonsentrasikan makna yang hendak di sampaikan dan cara-cara menyampaikan sesuatu dengan bahasa yang singkat.  Dari beberapa pengertian yang ada di atas maka dapat disimpulkan bahwa majas atau gaya bahasa adalah cara pengarang atau seseorang yang mempergunakan bahasa sebagai alat mengekspresikan perasaan dan buah pikir yang terpendam didalam jiwanya. Dengan demukian gaya bahasa dapat membuat karya sastra lebih hidup dan bervariasi serta dapat menghindari hal-hal yang bersifat monoton yang dapat membuat pembaca bosan.

PENGGUNAAN MAJAS DALAM PUISI TEMBANG ALAM KARYA SITOR SITUMORANG
Tembang Alam

aku ingin menyanyi agar awan itu pun
hinggap di pohon-pohon
sementara burung-burung kutilang
menabur mimpiku ke ladang-ladang

matahari tak perlu dikhawatirkan
seperti apa yang dijanjikan bulan
sehabis geram membakar rerumputan
ia pun pasti tenggelam.

awan hanya lewat, tapi tak hinggap
salamnya saja yang hangat lengkuas
burung-burung kembali beterbangan
sambil menirukan hatiku yang berkicau

Gaya Bahasa :
Sajak di atas mengandung beberapa gaya bahasa. Kata-kata yang mengandung gaya bahasa tersebut beberapa telah tercetak tebal. Berikut ini penjabarannya.

Hiperbola
Gaya bahasa tersebut ditunjukkan pada baris yang mengandung kata-kata sehabis geram membakar rerumputan. Kata ‘membakar’ mengandung kesan dibesar-besarkan atau dilebih-lebihkan. Sejatinya, kata tersebut diperuntukkan matahari yang dengan panasnya yang mengenai rerumputan. Penggunaan kata ‘membakar’ mengesankan bahwa panas matahari yang digambarkan menyorot pada rerumputan benar-benar panas sekali. Memang benar, namun terkesan dilebih-lebihkan dari kenyataan. Oleh karena itu, bolehlah dikata bahwa barisan kata itu mengandung unsur hiperbola.

Analisis Bahasa Kiasan :
Sajak di atas mengandung beberapa bahasa kiasan. Kata-kata yang mengandung bahasa kiasan tersebut beberapa telah tercetak tebal. Berikut ini penjabarannya.

 Simile
Bahasa kiasan tersebut ditunjukkan pada baris yang mengandung kata-kata matahari tak perlu dikhawatirkan seperti apa yang dijanjikan bulan. Penggunaan kata ‘seperti’ menunjukkan secara eksplisit mengenai perbandingan antara sesuatu dengan sesuatu yang lain. Dalam hal ini, ‘apa yang dijanjikan bulan’ dibandingkan dengan ‘pengkhawatiran akan matahari’. Maka, dapat dikatakan bahwa baris kata-kata tersebut mengandung unsur bahasa kiasan simile (perbandingan).
 
Personifikasi
Bahasa kiasan tersebut ditunjukkan pada baris yang mengandung kata-kata awan itu pun hinggap di pohon-pohon. Kata kerja ‘hinggap’ dilekatkan pada subjek ‘awan’. Hal ini mengisyaratkan bahwa awan dapat melakukan pekerjaan ‘hinggap’ laiknya yang bernyawa. Ada aspek penginsanan sesuatu yang tak bernyawa, yakni awan bisa hinggap di pohon-pohon. Kata kerja memuntahkan ini kerap kali digunakan dalam subjek yang bernyawa sehingga ada kesan pekerjaan yang sifatnya manusiawi dalam penggunaan kata tersebut.
Selain itu, ada pula kata-kata apa yang dijanjikan bulan. Dalam hal ini, kata-kata tersebut mengandung makna bahwa bulan dapat berjanji. Ada apek penginsanan di sini. Oleh sebab itu, barisan kata itu mengandung bahasa kiasan personifikasi.
Bahasa kiasan personifikasi juga tampak pada kata-kata burung-burung kutilang menabur mimpiku ke ladang-ladang. Dalam hal ini, burung kutilang digambarkan bisa melakukan hal berikir dan bertindak, yakni ‘menabur mimpi’. Oleh karena itu, barisan kata tersebut mengandung unsur bahasa kiasan personifikasi.
Di samping itu, ada pula kata-kata awan hanya lewat, tapi tak hinggap. Di sini, tersirat bahwa awan dapat melakukan pekerjaan laiknya yang bernyawa. Awan digambarkan dapat lewat dan hinggap layaknya sesuatu yang bernyawa. Maka, kata-kata dalam larik tersebut mengandung personifikasi.
Personifikasi juga muncul dalam kata-kata hatiku yang berkicau. Dalam hal ini, digambarkan bahwa hati yang merupakan benda mati dapat berkicau atau berbicara layaknya benda hidup. Memang bisa, namun bukan hati yang dalam artian fisik, hati yang tergambar dalam sajak ini seolah-olah dalam konteks fisik sehingga dapat dikatakan bahwa kata-kata ini mengandung bahasa kiasan personifikasi.


Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis mengenai gaya bahasa dan bahasa kiasan, dapat disimpulkan bahwa sajak Sitor Situmorang yang berjudul Topografi Danau Toba mengandung gaya bahasa hiperbola, paralelisme, paradoks, dan bahasa kiasan personifikasi, metafora. Sedangkan sajak Sitor Situmorang yang berjudul Tamasya Danau Toba mengandung gaya bahasa hiperbola, paradoks, dan bahasa kiasan simile, personifikasi. Selain itu, pada sajak karya D. Zamawi Imron mengandung gaya bahasa hiperbola, dan bahasa kiasan simile, personifikasi. Mengenai data di atas, dapat disimpulkan bahwa ketiga sajak itu didominasi oleh gaya bahasa hiperbola dan bahasa kiasan simile dan personifikasi. Oleh karena itu, ketiga sajak tersebut memang mengandung unsur gaya bahasa dan bahasa kiasan dalam setiap susunan kata-katanya.

Daftar Pustaka

Imron, D. Zamawi. 1999. Madura, Akulah Darahmu. Jakarta : Grasindo.
Pradopo, Rahmat Djoko. 1987. Pengkajian Puisi. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Situmorang, Sitor. 1982. Angin Danau. Jakarta : Penerbit Sinar Harapan. Cetakan Pertama.






BULUKUMBA, 11 APRIL 2013

TUGAS STILISTIKA
ANALISIS GAYA BAHASA PADA PUISI TEMBANG ALAM “KARYA SITOR  SITOMORANG”

stkip logo.jpg
DI SUSUN
OLEH
ASNAWAR
2009 310 20 286
B3.SORE

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH BULUKUMBA
2013



Related Article:

0 komentar:

Poskan Komentar


 

GPMB

Gerakan Pemasyarakatan MInat Baca kab Bulukumba. Agenda yang sudah dilakukan 1. Bulukumba book Fair 2. Seminar Peningkatan Minat Baca ( kalangan Guru) 3. Lomba Menulis Cerpen 4. Lomba Cipta Baca Puisi

KKRB

Komite KOnsolidasi Rakyat Bukukumba

LMP

Laskar Merah Putih Bulukumba.
Copyright 2010 PERUBAHAN. All rights reserved.
Themes by Bonard Alfin l Home Recording l Blogger Template