Minggu, 24 Februari 2013

PENDIDIKAN


Menemukan Makna Belajar
Setiap orang belajar. Anak-anak, mahasiswa, bahkan orang tua tak terkecuali. Setiap manusia belajar dengan caranya sendiri. Ada yang belajar dengan cara menghadiri
perkuliahan, ada yang banyak membaca buku apa saja, serta ada yang belajar dari cerita dan pengalaman hidup orang. Belajar merupakan tradisi umat manusia.
Sebagai seorang mahasiswa, apa yang terbayang di benak Anda ketika mendengar kata belajar? Mungkin jawabannya bisa berbeda-beda. Tergantung cara pandang kita terhadap belajar itu sendiri. Sebagian membayangkan duduk dan mendengarkan ucapan dosen sambil mengantuk. Tugas-tugas yang bertumpuk. Ancaman mendapat nilai rendah atau malah di-DO.
Setidaknya ada beberapa hal yang disepakati. Pertama belajar bukanlah pekerjaan yang meyenangkan. Kedua belajar Anda lakukan seringkali karena terpaksa. Apakah terpaksa lulus, atau terpaksa supaya dapat ijazah. Belajar menjadi kehilangan maknanya.
Boleh saja Anda membantah pemyataan di atas. Tapi saya akan membuktikan bahwa Anda tidak lebih baik dan seorang bayi yang juga belajar seperti Anda.
Pernahkah Anda memperhatikan seorang bayi belajar berjalan? Dengan keberanian yang dimilikinya, ia melangkahkan kaki selangkah demi selangkah. Namun apa hendak dikata bayi tersebut jatuh tersungkur. Tapi, ia pantang menyerah. Tersungkur satu kali, dua kali, bahkan puluhan kali tidak membuatnya jera untuk terus melangkah dan melangkah. Akhirnya, dalam waktu yang relatif singkat sang bayi sudah dapat berjalan sendiri.
Bagaimanakah bayi tersebut bisa belajar berjalan dengan sukses? Pertanyaan ini cukup menarik untuk dijawab. Seorang bayi tidak pernah diinstruksikan oleh orang tuanya atau siapa saja untuk belajar berdiri tegak, menjaga keseimbangan, atau menyuruhnya berjalan pelan-pelan supaya tidak jatuh. Tidak, sekali-kali tidak. Bayi tidak pernah diberi bimbingan macam-macam. Padahal berjalan adalah suatu kegiatan kompleks yang merupakan gabungan dari koordinasi gerak tubuh, keseimbangan dan kestabilan. Bayi itu temyata berhasil melakukan tugas sulit tersebut tanpa mendapatkan petunjuk teknis yang dibutuhkan.
Sedikitnya ada dua hal yang membuat sang bayi berhasil. Pertama, ia tidak pemah mengenal konsep kegagalan. Ia hanya tahu untuk mencoba dan mencoba belajar dari pengalamannya sendiri. Ia tidak mau tersungkur untuk selama-lamanya. Kedua, sang bayi selalu mendapat dukungan positif. Ketika ia jatuh orangtuanya berkata, “Ayo nak berdiri lagi. Mama akan membantumu.” Dan ketika ia berhasil, semua orang bergembira dan memberi selamat atas keberhasilannya.
Sekarang mari kita bandingkan dengan apa yang terjadi dengan diri Anda sekarang. Ketika dosen mulai menerangkan pelajaran, mungkin Anda sudah berpikir kapan pelajaran akan usai. Ketika tugas diberikan, Anda mungkin dongkol dengan dosen yang dianggap kelewatan dalam memberi tugas. Dan saat menjelang ujian, jika Anda termasuk golongan mahasiswa kebanyakan, Anda akan mulai sibuk mencari fotokopi catatan di sana-sini, pinjam buku di perpustakaan, dan mulai menyiapkan kopi buat begadang. Dan ketika ujian berlangsung, Anda merasakan tekanan yang luar biasa. Belajar menjadi sebuah beban yang terpaksa Anda lakukan. Anda belajar karena hal itu sebuah tradisi. Anda belajar karena ingin lulus, bukan karena Anda memang mencintai belajar. Cara dan gaya Anda belajar tidak lebih baik dari apa yang bisa dilakukan oleh seorang bayi. Semakin meningkatnya umur bukannya memberikan Anda cara dan gaya belajar yang lebih kreatif. Hari demi hari, Anda terjebak dalam rutinitas belajar yang membosankan.
Setelah lulus apa yang terjadi? Ternyata pasar tenaga kerja sering kesal dengan para fresh graduate ini. Para lulusan dianggap tidak memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang cukup untuk menghadapi dunia nyata yang harus dihadapinya. Anda harus ditraining kembali untuk bekerja. Padahal Anda telah belajar bertahun-tahun. Enam tahun untuk SD, tiga tahun untuk SMP, tiga tahun untuk SMA dan sekitar empat sampai enam tahun di perguruan tinggi.
Tapi itulah yang terjadi. Hasil belajar Anda tidak dihargai. Anda hanya dihargai dari selembar ijazah sebagai prasyarat untuk melamar kerja. Selebihnya, Anda harus bersaing lagi, Anda harus dites lagi dan akhirnya, Anda malah di-training kembali.
Temyata, ada yang salah dalam proses pendidikan kita sekarang. Seorang sarjana teknik jadi pengusaha. Lulusan ekonomi jadi wartawan. Tamatan ilmu komputer bekerja di bank. Memang hal itu sah-sah saja, tapi rasanya ilmu yang didapatkan menjadi kurang berguna.
Kita perlu mengubah semua kejadian tadi. Kita perlu belajar kembali tentang bagaimana caranya belajar. Belajar harus menjadi hal yang menyenangkan. Anda belajar bukan kerena terpaksa tetapi karena belajar memang menyenangkan dan Anda mencintainya.
Bobbi de Porter memberikan pemecahan alternatif dengan metode Quantum Learning. Nama Quantum sendiri menunjukkan adanya lompatan besar terhadap cara pandang kita selama ini tentang belajar. Dengan berbagai keterampilan teknis seperti membaca cepat, teknik mencatat, bagaimana berpikir logis dan kreatif, serta menghilangkan mitos “Aku tidak bisa”. Perubahan paradigma ini diharapkan dapat memberikan hasil nyata terhadap kesuksesan Anda.
Belajar seperti ini, mengharuskan Anda untuk memotivasi diri sendiri. Anda harus tahu manfaat apa yang bakal diperoleh dari ilmu yang Anda pelajari. Bagaimana mungkin Anda termotivasi jika Anda tidak tahu manfaat pekerjaan yang Anda lakukan? Anda tidak mungkin mengharapkan pujian orangtua, mendapat dukungan dari teman-teman, atau harapan positif lainnya. Anda harus secara aktif menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan menyenangkan bagi diri Anda. Ketika semua orang tak lagi memotivasi, Anda harus mencari lingkungan baru yang dapat memotivasi Anda. Jika hal itu pun tak dapat dilakukan, setidaknya Anda masih punya diri sendiri untuk memberi semangat.
Jika kita melihat sejarah ke belakang, kita akan temui banyak sekali orang yang belajar dengan benar. Anda pasti kenal Aristoteles, seorang ahli hikmah dari Yunani. Anda juga perlu merujuk pada ilmuwan muslim masa lalu. Al-Farabi yang ahli fisika, Ibnu Sina yang ahli kedokteran, atau Jabir bin Hayyan yang ahli kimia serta banyak lagi lainnya. Mereka adalah para ahli multi disiplin ilmu. Mereka sekaligus spesialis tak tertandingi di bidangnya. Satu hal yang seringkali kita lupa bahwa kita pun merniliki potensi yang sama dengan mereka. Hanya saja, mereka memanfaatkan potensi tersebut sedangkan kita mengabaikannya.
Apa yang membedakan mereka dari kita? Tampaknya hanya satu hal yakni paradigma atau cara pandang mereka terhadap proses belajar itu sendiri. Mereka belajar dengan cara menemukan lebih dahulu apa manfaat dan bidang-bidang yang mereka kuasai. Mereka tidak ingin sekedar prestise yang diperoleh dari selembar ijazah tapi ingin penguasaan yang menyeluruh. Dengan demikian, mereka belajar dengan penuh rasa ingin tahu. Mereka akan terus menggali ilmu dengan kesungguhan sampai maut memisahkan.
Agama menyuruh umatnya untuk giat menuntut Ilmu. Al-Qur’an mengatakan bahwa Allah SWT meninggikan derajat orang yang berilmu lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak berilmu. Nabi mengajarkan untuk menuntut ilmu sampai ke negeri Cina sekalipun. Ilmu laksana hikmah yang harus terus dicari, digali, dieksplorasi dan akhimya diambil dan dimanfaatkan demi kebaikan. Betapa banyak ayat-ayat Al-Qn’an yang menyuruh kita menggunakan akal untuk berpikir, menggunakan hati untuk merenung, serta memanfaatkan potensi diri sebesar-besarnya.
Sebagai seorang calon intelektual kegiatan belajar merupakan makanan sehari-hari bagi Anda. Akan tetapi, sudahkah Anda memiliki motivasi yang tepat, niat yang benar serta mampu melihat manfaat dari setiap bidang yang Anda pelajari? Wallahu a’lam.
Insya Allah, dengan mengubah cara pandang tentang belajar maka belajar Anda akan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Anda tidak akan pernah lagi merasakan belajar sebagai sebuah beban melainkan melihatnya sebagai sebuah tantangan. Anda akan memasuki wilayah eksplorasi ilmu yang tiada habis-habisnya. Anda akan merasakan indahnya ilmu Allah SWT yang saling terkait satu sama lain. Anda akan terus-menerus menemukan manfaat dan minat-minat baru dalam belajar. Anda tidak akan pernah puas mereguk lautan ilmu. Semakin banyakAnda mereguknya, Anda hanya akan semakin haus. Dan akhirnya Anda akan menjadi seorang pelajar Quantum. Seorang yang belajar kapan saja, di mana saja, dari siapa saja dan dengan cara apa saja. Anda bisa belajar di ruang kelas, di kamar pribadi, di bus, atau di jalanan. Anda dapat memperoleh ilmu dari dosen, teman, tukang ojek, atau bahkan anak-anak. Andajuga dapat belajar dengan cara membaca buku, berdialog dengan orang lain, belajar dari pengalaman pribadi dan pengalaman orang lain, atau belajar dan alam semesta dengan melihat tanda-tanda kebesaran-Nya. Belajar Anda tidak lagi mengenal batasan tempat dan waktu.



Cerdas Baca Buku, Pintar Baca Lingkungan


http://i0.wp.com/24.media.tumblr.com/tumblr_m4ouktVunb1r9mgqro1_500.jpg?resize=490%2C326)

Sudahkah Anda membaca hari ini? Buku apa yang Anda baca? Kita sering mendengar kalimat membaca pangkal pandai. Sudahkah membaca menjadi rutinitas harian kita?
Jika kita tengok para pendiri bangsa Indonesia, mereka adalah orang-orang yang gemar membaca. Sebut saja Bung Karno, Bung hatta, Sutan Sjahrir. Mereka begitu dekat dengan buku. Kedekatan dengan buku membuat mereka berwawasan luas dan berpikiran besar. Kita tidak mungkin berdiskusi tanpa membaca dulu sebelumnya. Dengan membaca perdebatan dalam diskusi menjadi lebih bermutu dan tetap relevan dibaca.
Ada cerita betapa dekatnya pendiri bangsa dengan buku. Bung Hatta menjadikan buku karangannya, Alam Pikiran Yunani sebagai hadiah pengantin untuk isterinya. Seorang penyair dari Padang pernah berkata tentang Bung Hatta, “Dia orang besar dan hidupnya seperti buku yang tak akan tamat dibaca.”
“Tidak ada orang besar yang tidak membaca. Bahkan Fi’raun pun membaca. Meskipun Fir’aun dari kebiasaan membacanya itu membuatnya melakukan tindakan negatif,” kata Oom Nurohmah, ketika ditemui di ruangannya di kantor  Badan Perpustakaan dan Arsip daerah (BAPUSIPDA) jumat (25/5).
Untuk mencapai tahap minat baca, orang terlebih dulu melewati tahapan kemampuan membaca.”Sebelum minat tumbuh, kemampuan membaca dulu yang ditumbuhkan,” ujar ketua Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Jawa Barat. Menurutnya, kemampuan membaca itu bukan bawaan sejak lahir, tetapi harus dilatih.
Ada proses yang dilewati untuk mewujudkan kondisi gemar membaca. Proses tersebut dibina dari lingkungan terkecil. Keluarga merupakan lingkungan terkecil untuk membina dan mewujudkan gemar membaca.
Political will (regulasi) supaya terwujud budaya baca pun sangat penting. Pemerintah lewat kebijakan yang dikeluarkan bisa mendorong ke arah terwujudnya budaya baca,” ujar Oom. Mewujudkan budaya baca pada akhirnya menjadi tugas bersama, baik itu keluarga, lingkungan sekolah sampai pada pemerintah.
Menurut data UNCEF, minat baca orang Indonesia tergolong rendah. Kalau dipresentasekan Indonesia berada pada kisaran 0,01 pesen. “Artinya di Indonesia  satu buku di baca oleh seribu orang,” tambah Oom. Tampaknya ini terkait dengan kebiasaan masyarakat Indonesia yang lebih memilih ke pusat perbelanjaan ketimbang toko buku atau perpustakaan di kala waktu senggang.
Mengembalikan Fungsi Pepustakaan
Allah SWT menurunkan wahyu kepada Rasulullah SAW dengan ayat pertama yang berbunyi “iqra”, bacalah, bacalah dengan menyebut Tuhan yang Maha Pemurah.
“Jelaslah, manusia diciptakan untuk membaca. Bukan sekedar membaca teks tapi juga lingkungan, alam sekitar,” kata Oom.
Perkembangan teknologi informasi dewasa ini, di satu sisi ada peluang dan juga ancaman. Peluang untuk kita mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya. Ancaman ketika digunakan secara tidak bijak dan etis.
“Kita harus cerdas informasi dan cerdas media,” terang Oom. “Itu juga bagian dari membaca. Membaca lingkungan. Tren teknologi saat ini kita ikuti. Tapi dalam menggunakannya kita harus bijak dan etis. Orang yang bjak dan etis tentu akan dapat mempertanggungjawabkan apa yang dilakukanya.”
Informasi juga bisa kita dapatkan di perpustakaan. Melalui buku-buku yang ada di perpustakaan kita dapat menjadikan informasi sebagai sumber kekuatan. Salah satu fungsi dari perustakaan adalah sebagai fungsi informatif.
Di perpustakaan juga kita bisa belajar. Ada pertarungan dialektika di sana. Lewat buku-buku kita membangun karakter. Buku kerap kita anggap “tidak ramah”. Kita malas membeli buku karena harganya kelewat mahal. Oleh sebab itu perpustakaan menjadi solusi bagi mereka yang haus akan ilmu pengetahuan.
Sudah saatnya kita mulai melestarikan budaya membaca. Hari ini banyak cara dikembangkan agar membaca menjadi sesuatu yang menyenangkan. Misalnya, lewat lagu yang membangkitkan gairah untuk membaca. Seperti yang dilakukan oleh Oom dan Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB). Mereka merilis album yang berisi lagu-lagu untuk menumbuhkan semangat membaca. Membaca disajikan dengan se-kreatif mungkin dan tidak menjemukan. So, siapa lagi yang menyusul? ***



Senin, 18 Februari 2013

Sebatang Lisong

Sajak Sebatang Lisong

menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukung mengangkang
berak di atas kepala mereka

matahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak - kanak
tanpa pendidikan

aku bertanya
tetapi pertanyaan - pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papantulis - papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan

delapan juta kanak - kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya
..........................

menghisap udara
yang disemprot deodorant
aku melihat sarjana - sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiunan

dan di langit
para teknokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas
bahwa bangsa mesti dibangun
mesti di up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

gunung - gunung menjulang
langit pesta warna di dalam senjakala
dan aku melihat
protes - protes yang terpendam
terhimpit di bawah tilam

aku bertanya
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair - penyair salon
yang bersajak tentang anggur dan rembulan
sementara ketidak adilan terjadi disampingnya
dan delapan juta kanak - kanak tanpa pendidikan
termangu - mangu di kaki dewi kesenian

bunga - bunga bangsa tahun depan
berkunang - kunang pandang matanya
di bawah iklan berlampu neon
berjuta - juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau
menjadi karang di bawah muka samodra
.................................

kita mesti berhenti membeli rumus - rumus asing
diktat - diktat hanya boleh memberi metode
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa - desa
mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati persoalan yang nyata

inilah sajakku
pamplet masa darurat
apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan
apakah artinya berpikir
bila terpisah dari masalah kehidupan

RENDRA
( itb bandung - 19 agustus 1978 )


KURIKULUM 2013

Jakarta (ANTARA) - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan, pengembangan kurikulum 2013 sebagai jawaban untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia hadapi perubahan dunia.
"Pengembangan dan perubahan kurikulum ini adalah sesuatu yang lazim saja untuk menciptakan anak didik yang kompeten dan bisa dipertanggungjawabkan," kata Nuh saat menyampaikan materi uji publik pengembangan kurikulum 2013 di Jakarta, Kamis.
Hadir dalam acara itu Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bidang Pendidikan Musliar Kasim, Kepala Balitbang Kemendikbud Khairil Anwar Notodiputro, tokoh pendidikan serta kepala Dinas Pendidikan se-Indonesia.
Dikatakan Mendikbud, pengembangan kurikulum 2013 sudah melalui proses panjang dan ditelaah sehingga saatnya disampaikan ke publik agar dapat bisa memberi pandangan lebih sempurna.
Diakui Nuh, adanya pendapat gani menteri ganti kurikulum memang ada benarnya karena memang dunia terus mengalami kemajuan, sehingga perlu ada perbaikan kurikulum bagi anak didik.
"Kasihan kalau anak didik kita menerima kurikulum yang tidak sesuai lagi yang pada akhirnya mereka menjadi tidak kompeten," kata Nuh.
Dikatakannya, dengan segala konsekuensinya perubahan kurikulum yang akan dimulai 2013 harus dilakukan jika tidak ingin kualitas SDM Indonesia tertinggal.
@emerintah akan merubah kurikulum Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, serta Sekolah Menengah Kejuruan dengan menekankan aspek kognitif, afektif, psikomotorik melalui penilaian berbasis test dan portofolio saling melengkapi.
"Siswa untuk mata pelajaran tahun depan sudah tidak lagi banyak menghafal, tapi lebih banyak kurikulum berbasis sains," kata Nuh.
Dikatakan Nuh, orientasi pengembangan kurikulum 2013 adalah tercapainya kompetensi yang berimbang antara sikap, keterampilan, dan pengetahuan, disamping cara pembelajarannya yang holistik dan menyenangkan.
Untuk tingkat SD, katanya, saat ini ada 10 mata pelajaran yang diajari, yaitu pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, matematika, IPA, IPS, seni budaya dan keterampilan, pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan, serta muatan lokal dan pengembangan diri.
Tapi mulai tahun ajaran 2013/2014 jumlah mata pelajaran akan diringkas menjadi tujuh, yaitu pendidikan agama, pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, matematika, seni budaya dan prakarya, pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, serta Pramuka.
Salah satu ciri kurikulum 2013, khususnya untuk SD, adalah bersifat tematik integratif. Dalam pendekatan ini mata pelajaran IPA dan IPS sebagai materi pembahasan pada semua pelajaran, yaitu dua mata pelajaran itu akan diintegrasikan kedalam semua mata pelajaran.
Dikatakan untuk IPA akan menjadi materi pembahasan pelajaran Bahasa Indonesia dan matematika, sedangkan untuk IPS akan menjadi pembahasan materi pelajaran Bahasa Indonesia dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN).
Mendikbud mengatakan, kurikulum 2013 itu diharapkan bisa diterapkan mulai tahun ajaran baru 2013, tapi sebelumnya diuji publik November 2012. (ar)


Selasa, 12 Februari 2013

Isu Kalimah Allah

Apabila ditanya tentang hukum orang kafir guna kalimah Allah, sebenarnya soalan itu sendiri tidak betul. Ramai yang menjawab hukum asalnya ialah harus. Sedangkan hukum wajib, sunat, harus, makruh dan haram adalah hukum taklifi, dan yang mukallaf ialah orang Islam. Orang kafir tidak disasarkan dengan hukum-hukum Allah kecuali:-
1) ayat-ayat yang mewajibkan beriman
2) hukum-hukum jenayah dan muamalat, berdasarkan akad zimmah
Oleh itu, persoalan sebenar yang mesti dijawab ialah apakah wajar kerajaan sebagai Ulil Amri, yang mempunyai jentera mengeluarkan fatwa dan menguatkuasakan fatwa, mengharuskan penggunaan kalimah Allah dalam Bible dan bahan-bahan terbitan gereja di Malaysia?
Persoalan sebegini secara asasnya sudah termasuk dalam bab Siyasah Syariyah, di mana kerajaan berkuasa membuat keputusan melalui pertimbangan antara maslahat dan mafsadah, yang semuanya itu mestilah berada dalam kerangka Maqasid Syarak, menjaga agama dalam konteks isu ini.
Hakikatnya, kerajaan sudah ada keputusan. Sebagai rakyat kita perlu terima keputusan itu, kerana ia mengikut lunas-lunas syarak. Janganlah semua orang nak jadi kerajaan, atau semua perkara nak dibangkang.
Persoalan sebegini sebenarnya mengenai kuasa agama ke atas kehidupan awam, perkara yang amat dibenci oleh puak sekular liberal. Sebahagian orang Islam, termasuk yang popular, mengupas isu ini tanpa melihatnya dalam skop pertembungan antara ideologi. Itu satu kegagalan yang mampu mengundang tragedi kepada umat.
Wujudnya hubung kait antara ayat dan topik tidak semestinya boleh berlaku pendalilan di situ. Ramai orang terjebak dalam fenomena ini, iaitu menggunakan ayat al-Quran untuk menguatkan hujah, tapi mereka tidak sedar bahawa ayat itu tidak kena dijadikan sebagai dalil. Untuk kes ini, Surah Zumar ayat 3 dan Surah Ankabut ayat 63, sebagai contoh, ada hubung kait, tapi tidak kena langsung untuk dijadikan sebagai dalil mengharuskan. Pendek kata pendalilan (istididlal) tidak betul, selain isu orang kafir tidak menjadi sasaran hukum cabang syarak seperti yang disebut di perenggan pertama.



 

GPMB

Gerakan Pemasyarakatan MInat Baca kab Bulukumba. Agenda yang sudah dilakukan 1. Bulukumba book Fair 2. Seminar Peningkatan Minat Baca ( kalangan Guru) 3. Lomba Menulis Cerpen 4. Lomba Cipta Baca Puisi

KKRB

Komite KOnsolidasi Rakyat Bukukumba

LMP

Laskar Merah Putih Bulukumba.
Copyright 2010 PERUBAHAN. All rights reserved.
Themes by Bonard Alfin l Home Recording l Blogger Template